Sabtu, 03 Juli 2010

Ketika Mahasiswa Menjadi “Pelacur Sosial”**

Ketika Mahasiswa Menjadi “Pelacur Sosial”**

Faid As- Sulaim*

SAPAKU I

Kamu tahu, aku bangga kepada Amerika, masyarakatnya hidup tenteram tanpa ada ketakutan yang menyusup ke benak mereka. orang-orang Amerika memiliki sifat dinamis dan progresif, bagi mereka, tiada hari tanpa berfikir. Di Indonesia? Ehm… tiada hari tanpa menelepon……..! entah hal apa yang dibicarakan ditelepon? Entah ada keperluan apa sampai harus menelepon, entah membicarakan apa sampai harus sering menelepon? entah merapatkan hal apa hingga harus berbicara ber jam-jam di telepon?

KUNCI I

Dunia berubah menjadi arena pembantaian, kekuatan di himpun untuk terus menjajah yang lemah. Strategi yang matang diatur agar penjajahan bisa dimainkan dengan cantik dan molek, secantik dan semolek salah satu Mahasiswi STKIP PGRI Sumenep yang memang menjadi buruan para Mahasiswa. Taktik diatur sedemikian rupa agar realitas penjajahan bisa tetap dikendalikan dan dikuasai oleh yang “kuat”. Ritme yang mereka mainkan untuk terus mengekploitasi kaum yang “lemah” merupakan kunci yang membuat pintu hati orang-orang yang “lemah” dengan tangan terbuka tanda persahabatan memeluk kaum “kuat” itu, meski sekujur tubuh orang yang “lemah” senantiasa diiris oleh belati tajam yang melingkar di tubuh orang yang “kuat”. Menghabisinya secara halus, perlahan-lahan, lembut sekali.

KUNCI II

Masyarakat Indonesia sudah terlalu “Pintar” untuk terus mempelajari fenomena kehidupan. Indonesia sudah terlalu “bijaksana” untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masyarakat mustadafin. Masyarakat Indonesia sudah terlalu “giat bekerja” sehingga mereka tidak ingin mendapatkan sesuatu dengan melalui proses dari A-Z atau dari 0-10 atau dari P-E, masyarakat Indonesia lebih menyukai yang instan, siap saji dan tidak usah bertele-tele. Namun aku tetap kagum pada orang Indonesia (meminjam bahasa Cak Nun), banyak orang di penjuru dunia ini yang menginginkan waktu lebih panjang dari biasanya agar mereka bisa menggunakan waktu itu untuk bekerja, semua itu mungkin di sebabkan mereka tidak pernah hidup tenang dan setenteram orang Indonesia, ya.. Orang Indonesia yang selalu santai dan tenang, tidak ada agenda yang mendesak, Indonesia tidak perlu diselamatkan. (terinspirasi dari bukunya Amin Rais dan mengalami perubahan redaksi).

KUNCI III

Pilar terpenting dari bangsa Indonesia adalah Mahasiswa. Tidak ada revolusi apapun tanpa peran Mahasiswa, dan tak ada kontra revolusi apapun tanpa peran Mahasiswa (kalimat ini diucapkan oleh orang asing). Mulai dari pertama kali menginjakkan kakinya di kampus, seorang mantan siswa akan menjadi MAHASISWA yang konon katanya adalah gelar sakral dan penuh dengan beban tanggung jawab. Predikat Mahasiswa akan membuat seseorang menjadi agen perubahan, pengontrol perubahan sosial, penyampai Ilmu dan lain sebagainya, intinya, Mahasiswa adalah “warasatul Ambiya’” Mahasiswa-lah yang akan menjadi nabi-nabi Sosial, seorang Intelektual yang senantiasa gelisah melihat ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, di negara atau bahkan di dunia, yang selalu tergugah ketika keberagamaan yang mereka miliki tidak memihak, memihak kemana?

KUNCI IV

Sangat sulit bagi manusia untuk tidak mengulangi sejarahnya yang kelam, mencekam dan penuh dengan lumpur-lumpur dosa. (ini kata Bernard Shaw bukan kata saya). Dan Mahasiswa adalah manusia yang sangat sulit menjaga semangat dan idealismenya. sehingga ketika situasi mendesak, kondisi menghimpit, maka mereka akan segera mengadaikan atau bahkan menjual semangat, idealisme, etika atau bahkan moral mereka di “pasar anom baru”. Sehingga akhirnya mereka menjadi manusia amoral. Tidak berakhir sampai di sini, status Mahasiswa yang melekat dalam diri mereka yang idealnya adalah sebaga nabi-nabi sosial namun ketika content dari ke-MAHASISWA-annya telah digadaikan di “pegadaian Pamolokan” atau dijual di “pasar anom baru”, maka status mereka adalah “PELACUR-PELACUR SOSIAL” yang seumur hidupnya, akan selalu menjajakan moral dan etikanya. Pada akhirnya mereka akan lebih parah dari PSK-PSK yang berkeliaran di TB. Karena PSK hanya menjual miliknya sendiri, sedangkan MAHASISWA yang berevolusi menjadi pelacur-pelacur sosial, bisa menjual hak milik orang lain, kaum Mustadhafin, kaum yang tersingkir dan terpinggirkan.

1 komentar:

Wildani Hefni mengatakan...

Pilar terpenting dari bangsa Indonesia memang Mahasiswa. Namun, kini mahasiswa kehilangan kesaktian untuk merambah menjadi pendekar gagah. Lebih miris lagi, mahasiswa terjangkit virus retro aktif. Harapan publik mahasiswa tetap survive dengan revolusi besar-besaran yang menyebabkan perubahan radikal, fundamental, menyentuh inti dan membangkitkan emosional khusus dari reaksi intelektual, mengalami ledakan mobilisasi massa, antusiasme, kegirangan, kegembiraan, optimisme dan harapan, namun itu berbanding arah dengan kehidupan kaum kritis masa kini.
Pada titik klimaksnya, harapan untuk mahasiswa sebagai pengawal reformasi kandas ditengah jalan, yang ada mereka terjerambab dalam kungkungan hedonisme. Hendak kemana gelora mahasiswa?

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | Affiliate Network Reviews