Ketika Mahasiswa Menjadi “Pelacur Sosial”**
Faid As- Sulaim*
SAPAKU I
Kamu tahu, aku bangga kepada Amerika, masyarakatnya hidup tenteram tanpa ada ketakutan yang menyusup ke benak mereka. orang-orang Amerika memiliki sifat dinamis dan progresif, bagi mereka, tiada hari tanpa berfikir. Di Indonesia? Ehm… tiada hari tanpa menelepon……..! entah hal apa yang dibicarakan ditelepon? Entah ada keperluan apa sampai harus menelepon, entah membicarakan apa sampai harus sering menelepon? entah merapatkan hal apa hingga harus berbicara ber jam-jam di telepon?
KUNCI I
Dunia berubah menjadi arena pembantaian, kekuatan di himpun untuk terus menjajah yang lemah. Strategi yang matang diatur agar penjajahan bisa dimainkan dengan cantik dan molek, secantik dan semolek salah satu Mahasiswi STKIP PGRI Sumenep yang memang menjadi buruan para Mahasiswa. Taktik diatur sedemikian rupa agar realitas penjajahan bisa tetap dikendalikan dan dikuasai oleh yang “kuat”. Ritme yang mereka mainkan untuk terus mengekploitasi kaum yang “lemah” merupakan kunci yang membuat pintu hati orang-orang yang “lemah” dengan tangan terbuka tanda persahabatan memeluk kaum “kuat” itu, meski sekujur tubuh orang yang “lemah” senantiasa diiris oleh belati tajam yang melingkar di tubuh orang yang “kuat”. Menghabisinya secara halus, perlahan-lahan, lembut sekali.
KUNCI II
Masyarakat
KUNCI III
Pilar terpenting dari bangsa
KUNCI IV
Sangat sulit bagi manusia untuk tidak mengulangi sejarahnya yang kelam, mencekam dan penuh dengan lumpur-lumpur dosa. (ini kata Bernard Shaw bukan kata saya). Dan Mahasiswa adalah manusia yang sangat sulit menjaga semangat dan idealismenya. sehingga ketika situasi mendesak, kondisi menghimpit, maka mereka akan segera mengadaikan atau bahkan menjual semangat, idealisme, etika atau bahkan moral mereka di “pasar anom baru”. Sehingga akhirnya mereka menjadi manusia amoral. Tidak berakhir sampai di sini, status Mahasiswa yang melekat dalam diri mereka yang idealnya adalah sebaga nabi-nabi sosial namun ketika content dari ke-MAHASISWA-annya telah digadaikan di “pegadaian Pamolokan” atau dijual di “pasar anom baru”, maka status mereka adalah “PELACUR-PELACUR SOSIAL” yang seumur hidupnya, akan selalu menjajakan moral dan etikanya. Pada akhirnya mereka akan lebih parah dari PSK-PSK yang berkeliaran di TB. Karena PSK hanya menjual miliknya sendiri, sedangkan MAHASISWA yang berevolusi menjadi pelacur-pelacur sosial, bisa menjual hak milik orang lain, kaum Mustadhafin, kaum yang tersingkir dan terpinggirkan.


18.21
Fawaid Sulaiman
1 komentar:
Pilar terpenting dari bangsa Indonesia memang Mahasiswa. Namun, kini mahasiswa kehilangan kesaktian untuk merambah menjadi pendekar gagah. Lebih miris lagi, mahasiswa terjangkit virus retro aktif. Harapan publik mahasiswa tetap survive dengan revolusi besar-besaran yang menyebabkan perubahan radikal, fundamental, menyentuh inti dan membangkitkan emosional khusus dari reaksi intelektual, mengalami ledakan mobilisasi massa, antusiasme, kegirangan, kegembiraan, optimisme dan harapan, namun itu berbanding arah dengan kehidupan kaum kritis masa kini.
Pada titik klimaksnya, harapan untuk mahasiswa sebagai pengawal reformasi kandas ditengah jalan, yang ada mereka terjerambab dalam kungkungan hedonisme. Hendak kemana gelora mahasiswa?
Posting Komentar